Selasa, 14 Januari 2014

Pematri coretan Jiwa



KETAKUTAN ITU


Oleh : Neng Qorie Nur Awaliah

 

Ada sebuah dinding yang terus meninggi di balik jiwaku

Sebuah halangan yang terus mengkristal

Aku  kian gusar saat jiwa enggan menyadarinya

Hadir menyeruak ke dalam falsafah hidup dan sebuah tujuan

 

Kini aku dalam pekat malam nan basah

Diluar hujan, sedang rasa takutku diubun-ubun

Ada seutas kesadaran yang jauh ku simpul dibatang takdir

Kini melilit leherku, mencarik-carik asa tertinggi dijiwaku

 

Oh, harus sembunyi dimana aku

Bahkan satu detik yang lalu aku berusah melupakan

Namun, sesuatu yang kutuju itu kadang cepat

Kadang lambat menghembus pada ku

 

Yah, dunia ini telah kujadikan teman

Hidup seiring dengan gelak tawa yan dijual jadi tontonan nasional

Menjual pil-pil agar aku lupa, agar kau lupa, agar mereka lupa

Ini tentang sebuah takut yang terlalu mencengkram Egois pada hidup

Beberapa menit yang lalu aku membuang keikhlasan di pintu kefanaan

 

Tapi sekarang dadaku sesak dengan penyesalan

Seiring dengan sebuah jalan yang terus kutunda untuk ku lalui

Aku melewatkan saat aku harus menjadi aku

Ah, igin ku buang kefanaan ini,

Bersama setan-setan yang terus menanggulkan tanduknya

 

Diluar pekat malam kian mengukir air dalam jatuhnya

Semetara ilusi tak sampai dipintunya

Semua seolah menyeretku ke pusara hitam

Melumatkan emosi, berdenting-denting nyaring menggerogoti dinding hati

 

Ah, dadaku semakin sesak aku terus ditari-tarik

Sesuatu menikam keras menghempas tepat di dada

Suara-suara hujan itu menjadi gema, kini rasanya seperti terjatuh diruang hampa

Dimana oksigen tak pernah tercipta

Tiba-tiba sesuatu dalam jiwaku keluar menarik syarafku agar aku diam

 

Ia mebuat kanvas dari gelentar seumpama gemuruh dalam gelomang

Gemuruh-gemuruh itu melempar cuplikan kealfaanku

Rasa takutku tiba-tiba seumpama durja awan muram

Mataku mendung, menahan bulir-bulir kesiaan

 

Jiwaku kini entah dimana, seolah dihamburkan dari sebuah ruang

Angin membawa butiran-butiran jiwaku

Saat ini Tuhan telah menyapaku , ya dan rasa gundah ini adalah artikel kematian

Jiwaku yang menjadi debu mendadak lesu luluh lantah

Kepalaku tersungkur diatas bumi, dan hujan mulai menutup tirainya di luar kamarku.

 


Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar