Minggu, 19 Januari 2014

seulas tentang II...



Dalam Lembayung
Oleh : Neng Qorie Nur Awaliah

Dalam lembayung itu, aku pernah titikan satu nama
Nama itu ku ukir menjadi siluet yang cemerlang
Ku kagumi, ku cintai dan ku tunggu hadirnya
Tumbuh menjadi harapan agar selalu dipertemukan

Namun, nama itu dari sebuah jiwa
Jiwa yang hendak membuntuti fikiranku
Jiwa yang selalu mengundang resah, menggugah
Oh, senyummu membuatku beku
Diam-diam kau tarik aku pada imajinasi tak bertepi
Rasanya, rasanya aku ingin kau bawa lari
Menuju ke keindahan yang paling indah

Seiring dengan sesuatu yang diam-diam menyeruak
Menebar bunga-bunga kekaguman dijiwaku
Kau, mungkin kau tak tau tentang keanehan ini
Biarlah, biarlah indahmu hanya dalam ilusi semata
Ketidak mungkinan menjadi tembok yang begitu tinggi membatasi
Kau dan aku mungkin saling menyimpan keindahan

Yah, keindahan yang berbeda
Beda sebeda-bedanya, bersamamu ku titipkan langit senja
Senja yang paling indah yang hanya bisa ku nikmati seaat
Namun tak mampu ku meraihnya.


Rabu, 15 Januari 2014

coret...



DAHULU
Oleh : Neng Qorie Nur Awaliah
                       
Dahulu aku melihat awan seperti halnya hatiku
Berhijrah dari sisi waktu dari sudut timur,
 namun belum sampai ke barat
hatiku selalu menerima permintaan bagai hausnya musim kemarau
sebuah  relung yang tak kunjung mematri satu jiwa

aku seolah dalam pengumbaraan yang tak kunjung menuai tujuan
padahal  jiwaku tak pernah beranjak disini
dibawah langit kebisuan bersama sekuntum harapan yang hendak ku bawa lari
saat ini sudah ada payung pelindung saat hati ini dihujan api kesepian
lalu ku tutup rapat-rapat pintu itu, yah pintu yang menggeliat ini
berada dalam pusara jiwaku,

dan kau, kutemukan dalam sosok penantianku
aku tak mencarimu, karna kita mungkin saling menemukan
taukah, aku takut jika awan membentuk jiwaku tersesat dalam arah angin
lantas aku meninggalkanmu walau tak untuk kulupakan

kebingungan dalam jiwaku kini membentuk sebuah pasir yang jatuh pada segenang air
malah berbentuk dan semakin jelas, maka sekeras cadas aku menahanmu dalam relungku
berusaha memenjarakan namamu, senyummu yang termanis
agar tak ada senyuman lain yang menanggul didalamnya
peliharalah rasa ini, rasa terbesar yang pernah ada dalam sejarah manusia

ketahuilah sayang, ketakutanku mungkin sesaat hilang
namun bersemayam dan kadang bangkit kembali
jadi tabahlah aku takan siakan sesuatu yang kau lukis di gradasi warna langit biru
jelaskan dan berikan warna terindah melebihi pelangi itu
agar aku tak beranjak, dan benar-benar membuat harap
bisa saling menaruh cinta di pelupuk mata
berharap hidup lalu mati disamping waktu.

Selasa, 14 Januari 2014

Seulas tentang....



DI PAGI INI
Oleh : Neng Qori Nur Awaliah

Dipagi ini hujan mengayun gerimisnya
Seperti tak mau menyudahi kedinginan seekor anak burung dalam sangkar
Ada yang pernah berdusta hari kemarin
Dibalik tirai hujan yang masih sama seperti dua tahun lalu

Kurang lebih 400 hari aku lalui hanya untk disampingmu
Padahal..
Kau, dahulu adalah kekasih yang tak pernah kuharapkan
Bersama sunyi nan asing pagi ini sayang
Pesanmu selalu tentang bibit cinta yang tak kunjung tunas
Lelahkah kau sayang..
Memberikan banyak mimpi, sedang aku selalu merasa tak layak

Ingatkah sayang
Tahun lalu, kau pernah lempar  aku pada kubangan busuk
Dalam luka-luka yang menggumpal
Tak ada darah yang menafsirkan kesakitan
Karna sakit itu, tak pernah ku kuak
Sakit itu bercerita tentang hatimu, tentang hidupmu

Syair pujangga dari negeri manapun tak pernah bisa kau pahami
Apalagi puisi-puisi sunyi dan nada-nada sendu ku
Haruskah aku menumpahkan sedikit darah pada baitnya

Bagiku cinta itu bukan hanya menyatu
Kadang perpisahan itulah cinta

Hujan ini sepertinya ingin lama sayangku
Bersama bahagia yang tak kunjung aku reguk
Aku ingin bertanya sayang,
Jika aku hidup dirantai tragedi, akankah kau menangis disana kekasihku?



Aksara di Legam



MALAM
Oleh : Neng Qori Nur Awaliah

Setelah sunset itu, keindahannya memang direguk sekaligus
Seolah setelah itu jingganya tak abadi
Ya, langit kini mulai bermuram berganti wajah
Kilas-kilas keindahannya telah dijilati warna pekat legam

Suara anak-anak mulai reda, tawa-tawa mulai menjauh
Desir angin membawa kabar sampai ke timur
Mengucap selamat tinggal pada sebuah cahaya
Sebagian keindahan telah direbahkan dibalik bumi
Di balik yang tak pernah diketahui, seolah jiwa hanya bisa mengumbacarakannya

Sesuatu terjadi begitu cepat
Karna pedang zaman perlahan-lahan menghunus waktu
Angin mendesir menyusuri dan menggeliati bumi
Ia menjamah sampai pada titik kepasrahan

Dan, kini hanya awan hitam yang berhamburan
Menutup sementara harapan-harapan
Harapan kebanyakan insan telah diistirahatkan
Namun taukah engkau wahai malam, ya kaulah malam
Ada harapan yang justru hidup saat kau di bangkitkan
Harapan itu adalah sebuah kepasrahan pada takdir

Tumbuh menjadi sengketa keniscayaan atas kenistaan
Menabur mawar-mawar layu atas sebuah kehausan duniawi
Dan padamu malam, beberapa jiwa tak seindah gelapmu
Ya, dan bumi ini punya hukum yang mengecamnya
Kehinaan itu seolah jalan yang dogmatis, jalan mutlak baginya


Tak satu setanpun mengusik mimpinya yang sama
Namun sewaktu-waktu derai sesal menyeruak
Aku tau kau jadi saksi, ya, kau saksi wahai malam !
Saksi atas ketidak berdayaan mereka yang memilih jalan kapital
Yang tak mau dan malu bertahan hidup sepetak.