DAHULU
Oleh : Neng Qorie Nur
Awaliah
Dahulu aku melihat awan
seperti halnya hatiku
Berhijrah dari sisi
waktu dari sudut timur,
namun belum sampai ke barat
hatiku selalu menerima
permintaan bagai hausnya musim kemarau
sebuah relung yang tak kunjung mematri satu jiwa
aku seolah dalam
pengumbaraan yang tak kunjung menuai tujuan
padahal jiwaku tak pernah beranjak disini
dibawah langit kebisuan
bersama sekuntum harapan yang hendak ku bawa lari
saat ini sudah ada
payung pelindung saat hati ini dihujan api kesepian
lalu ku tutup
rapat-rapat pintu itu, yah pintu yang menggeliat ini
berada dalam pusara
jiwaku,
dan kau, kutemukan
dalam sosok penantianku
aku tak mencarimu,
karna kita mungkin saling menemukan
taukah, aku takut jika
awan membentuk jiwaku tersesat dalam arah angin
lantas aku
meninggalkanmu walau tak untuk kulupakan
kebingungan dalam
jiwaku kini membentuk sebuah pasir yang jatuh pada segenang air
malah berbentuk dan
semakin jelas, maka sekeras cadas aku menahanmu dalam relungku
berusaha memenjarakan
namamu, senyummu yang termanis
agar tak ada senyuman
lain yang menanggul didalamnya
peliharalah rasa ini,
rasa terbesar yang pernah ada dalam sejarah manusia
ketahuilah sayang,
ketakutanku mungkin sesaat hilang
namun bersemayam dan
kadang bangkit kembali
jadi tabahlah aku takan
siakan sesuatu yang kau lukis di gradasi warna langit biru
jelaskan dan berikan
warna terindah melebihi pelangi itu
agar aku tak beranjak,
dan benar-benar membuat harap
bisa saling menaruh
cinta di pelupuk mata
berharap hidup lalu
mati disamping waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar