Selasa, 14 Januari 2014

Aksara di Legam



MALAM
Oleh : Neng Qori Nur Awaliah

Setelah sunset itu, keindahannya memang direguk sekaligus
Seolah setelah itu jingganya tak abadi
Ya, langit kini mulai bermuram berganti wajah
Kilas-kilas keindahannya telah dijilati warna pekat legam

Suara anak-anak mulai reda, tawa-tawa mulai menjauh
Desir angin membawa kabar sampai ke timur
Mengucap selamat tinggal pada sebuah cahaya
Sebagian keindahan telah direbahkan dibalik bumi
Di balik yang tak pernah diketahui, seolah jiwa hanya bisa mengumbacarakannya

Sesuatu terjadi begitu cepat
Karna pedang zaman perlahan-lahan menghunus waktu
Angin mendesir menyusuri dan menggeliati bumi
Ia menjamah sampai pada titik kepasrahan

Dan, kini hanya awan hitam yang berhamburan
Menutup sementara harapan-harapan
Harapan kebanyakan insan telah diistirahatkan
Namun taukah engkau wahai malam, ya kaulah malam
Ada harapan yang justru hidup saat kau di bangkitkan
Harapan itu adalah sebuah kepasrahan pada takdir

Tumbuh menjadi sengketa keniscayaan atas kenistaan
Menabur mawar-mawar layu atas sebuah kehausan duniawi
Dan padamu malam, beberapa jiwa tak seindah gelapmu
Ya, dan bumi ini punya hukum yang mengecamnya
Kehinaan itu seolah jalan yang dogmatis, jalan mutlak baginya


Tak satu setanpun mengusik mimpinya yang sama
Namun sewaktu-waktu derai sesal menyeruak
Aku tau kau jadi saksi, ya, kau saksi wahai malam !
Saksi atas ketidak berdayaan mereka yang memilih jalan kapital
Yang tak mau dan malu bertahan hidup sepetak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar