Rabu, 13 November 2013

Kegalauan itu...


Kegalauan.
Kegalauan identik dan di sandarkan sebagai suatu keadaan yang buruk terhadap fsikis seseorang, padahal kegalauan sesungguhnya adalah suatu perasaan resah akibat dari pengkajian atas diri dan hidup, kegalauan adalah suatu titik terendah dari keadaan kejiwaan seseorang dimana bisa menjadi baik, atau malah menjadi buruk, kegalauan digambarkan sebagai suatu titik keresahan dan kekhawatiran, dimana disana terjadi penghayatan perasaan yang cenderung menyampingkan terhadap pemikiran.
Jika kegalauan cenderung terhadap akibat karena mengalami tekanan hidup, ataupun masalah percintaan, kegalaun disini menimbulkan tekanan yang sedikit sensitif, karna pusat penghayatan nya ada pada hati, dan perasaan, ketika kegalauan seperti itu menghadang, tekanan nya merambat pada sisi kemajuan dan kemunduran hidup, bisa menuju perubahan baik atau bahkan perubahan buruk, hidup seseorang yang dilanda galau seperti  ini jika tidak segera bangkit akan mengalami keadaan yan g sangat fatal, contoh ketika menghadapi tekanan kehidupan, seseorang yang broken home, setelah fase galau memungkinkan, akan mengadapi fase prustasi bahkan menghabisi diri sendiri.
Kegalauan yang dipandang sebagai tekanan terburuk dalam hidup seseorang, ternyata kegalauan adalah hal yang sangat manusiawi bahkan jika seseorang tidak pernah menghadapi kegalauan, ia tidak dikatakan manusia, kegalauan adalah fase yang terindah, dimana semua hal tersandar dan terfilter dalam fase kegalauan seperti ini, dimana diri kita resah, ingin mengetahui diri kita dan Tuhan, dan sesuatu yang menjadi pertanyaan berkepanjangan , dimana dari kegalauan lah filsafat terlahir, kegalaun ini cenderung melahirkan pemikiran-pemikiran cemerlang, dan  pemikiran-pemikiran baru yang mengakibatkan keberagaman dan kemajuan, kegalauan adalah sarana, yang mengahasikan sesuatu semuanya tergantung apa yang difikirkan, buruk dan baik nya yang akan menjadi akibat dari kegalaun tersebut.
Segalanya yang baik dan terlahir baik, berasal dari pemikiran yang baik, namun tidak sedikit sesuatu yang baik dan indah itu lahir dari keresahan yang mendalam dan berkepanjangan, yang berbuah rasa ingin keluar dari hal tersebut lalu membentuk perubahan yang luar bisa, dan dari metamorfosa tersebut, keindahan itu didapat.

Selasa, 12 November 2013

love motivasion

love motivasion..

menerima perbedaan yang telah digariskan, adalah suatu tindakan yang mudah tapi sulit, menghadapi dan menyingkap takdir, dan menghadapi hidup ini janganlah melihat sisi sulitnya, tapi cobalah lihat sisi mudahnya, karna memang semua hal di dunia ini takan ada gunannya, semua akan kembali dan bermuara pada sang pemegang kuasa skenario, di alam yang penuh dengan sandiwara ini, janganlah mengikuti sandiwara yang ada, semua ini bahkan tiada guna, jikapun tahu siapa diri kita dan dari mana, taakan pernah jiwa ini bersetubuh dengan duniawi, sayangnya hal yang dogmatis ini, dipenuhi dengan tipuan-tipuan belaka, seluruh penghuni alam ini mempercayai adanya Tuhan walupun, mereka menyikapinya berbeda-beda, mereka hanya tidak menyadari Tuhan mereka sesungguhnya sama, dengan perkembangan filsafat mereka, mereka mungkin bebas menggambarkan Tuhan sesuai pengetahuan mereka, karna hanya dengan keilmuan kita mengetahui Tuhan dan ciptaanya, jikapun kenyataanya semua ini sarat akan haus teori, segala hal tentang takdir dan Tuhan, adalah hal perspektif, segalanya serba menduga, teori demi teori dikaji, namun hal itu hanya dapat diselesaikan oleh diri kita dan keyakinan masing-masing, keyakinan disini adalah dalam konteks iman, sedangkan iman bisa diterima dengan logika dan hati,karana pengetahuanlah kita tahu, namun karna pengetahuan pulalah kita rentan menyimpang.

sesungguhnya, segalanya hanya urusan diri sendiri, karna pun datangnya ke bumi ini sendiri dan tiba-tiba ditanggung jawabi banyak hal, bahkan bumipun menjadi tanggung jawab kita, lalu pulang dengan tanggung jawab sendiri, intinya kita harus, lebih banyak mengkaji diri, karnapun hidupmu untukmu nanti, maka tunaikanlah urusanmu di dunia, jikapun segala perbedaan nyaris sempurna tergambar, tetapi semua manusia sama-sama diperkosa oleh aturan hidupnya, sudahkah lebih baik? jangan lontarkan keluhanmu pada manusia yang ditakdirkan berbeban, tapi selesaikanlah dengan pengetahuan dan keyakinan, antaramu dan Tuhan, hidup ini hanya persoalan maju atau diam.

jikapun kita tau syurga, tapi pengetahuan itu dari orang lain, ada atau tidaknya itulah hal perspektif yang hanya bisa diterima dengan keimanan kita, yang terpenting adalah menjadi yang baik didunia ini, menunaikan segala yang menjadi keharusn kita, sesuai apa yang telah ada, jikapun dunia ini sandiwara, maka buatlah sandiwara itu menjadi kenyataan. lekas bergerak, waktu telah lama meninggalkanmu, dunia takan menunggu kita menjadi baik lau kiamat, satu hal, ingatlah selalu kematian itu pasti. 

Senin, 11 November 2013

pengalaman pertama



Ketika menjadi pemula sebagai pendidik junior yang masih sangat awam, ada rasa tidak percaya diri dengan pengetahuan yang dipunya, mengingat ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, merasa tidak pernah menjadi siswa yang baik, kemungkinan akan dilanda banyak polemik, namun ketika langkah mantap, saat masuk atau menghadapi anak-anak bukan masalah keilmuan yang dipunya, tetapi kemampuan kita untuk membawa situasi sikis anak-anak yang akan kita hadapi, menurut saya, mereka akan mudah memahami ketika suasananya sesuai dengan hati mereka, harus tetap memberikan sanjungan serta senyuman, buatlah dulu si anak menyukai tutur bahasa dan prilaku kita, jangan pernah sekali-kali menekankan satu kewajiban yang membuat anak ketakutan, ternyata tidak mudah, karena kita harus tahu kondisi setiap anak, berikan sentuhan lembut dipundak anak, dan sapa setiap satu persatu.
Sebagai pendidik kitapun harus menyukai dan mem biasakan diri terhadap anak-anak, jangan pernah membawa masalah pribadi ke dalam kelas, atau melampiaskan kekesalan kita kepada anak-anak, meskipun bukan guru sungguhan, tapi beriteraksi dengan anak-anak di dunia pendidikan itu kuncinnya harus di nikmati, senang tapi sulit menghadapi fase awal ini, kuncinya tetaplah bersabar dan memahami.
Jangan jadikan profesi guru/pengajar adalah sarana mencar i uang atau penghasilan, yang akhirnya anda hanya terobsesi pada realisasi penjaminan yang ada, sehingga mengesampingkan peran murni seorang pendidik, ilmu yang bermanfa’at seta sabar yang luar biasa, adalah jaminan kebaikan dunia dan akhirat, teruslah berbagi dan mencari ilmu.
Terimakasih untuk sampai saat ini banyak sekali pejuang-pejuang pendidikan yang tetap semagat dalam kiprahnya, mereka adalah pembawa perubahan zaman, memerangi kebodohan disetiap penjuru dunia ini.
Terimakasih wahai Guru..

Minggu, 10 November 2013

Suara dari hati



HARUSKAH?
Semua orang tau Indonesia belum merdeka, dan pernyataan itu hanya tinggalah pernyataan, semua orang mengelu-elukan ingin memajukan Indonesia, tapi memajukan kemana? Indonesia tetap ada digaris lintangnya kok, dan tetap ada dibelahan bumi asia, saat ini rakyat mungkin semakin kehausan akan kejujuran, ironis, kejujuran di Indonesia adalah kebenaran sdikit kesalahan, orang yang mempunyai kuasa tangan tidak menggunakan tangannya untuk melayani, tapi malah mengacungkan telunjuk kesanan kemari, semua hanya manut pada system, aturan dan undang-undang belaka, walaupun dalam sila ke 2 , menyebut tentang “kemanusiaan” , sampai hari ini kenyataannya jauh, Indonesia belum bias memanusiakan manusiannya.
Rakyat Indonesia kebanyakan hanya manut dan taqlid pada takdirnya, mereka hanya iya ketika di-iyakan dan begitupun sebaliknya, jika berbicara masalah menumpas kemelut-kemelut, orang-orang terpilih itu hanya mencanangkan teori dan aturan semata, jikalaupun presidennya beganti setiap tahun,toh duduk masalahnya akan berbeda setiap priode, garis kemiskinan tetap saja eksis pada garisnya, sementara garis popularita negeri untuk luar yang sama sekali tak menguntungkan rakyat sebagian besar, eksis merambah menjadi kebanggan penjuru bumi, Indonesia harus bangga ketika tak ada lagi jerit kelaparan di lorong jalan , atau bahkan dikolong jembatan, buanglah undang-undang yang merumitkan kaum awam, yang sam sekali tak terjamah pendidikan, mereka memandang itu hanya takdir yang harus mereka telan.
Dibawah garis kesenjangan, apakah masih kaum pemikir pemegang kuasa, masuk kesetiap perasaan rakyatnya, ketika menyingkap kepedulian, mereka peduli kepada apa yang mereka lihat, dan bukan apa yang rakyat rasakan, ketika kesejahteraan menjadi angan-angan, harga kebutuhan dibawah bersaing dengan harga diri rakyat, jeritan tangis kaum lemah bagai simponi belaka.
Pendidikan pun menjadi hal yang sangat mereka takutkan, mereka menukar ilmu dengan penyelewengan bahkan dengan nilai dirinya, jikapun dalam undang-undang dasar diusung “mencerdaskan kehidupan bangsa” kenapa biaya untuk mengenyam pendidikan secara sempurna itu sangat mahal? Pendidikan saja di exsploitasi? Apa kata dunia ? , jikapun hari ini adalah hari pahlawan, mungkin hanya sebagian lapisan masyarakat yang akan mengerti dan merenungkannya, diujung sana mereka yang dibodohkan takan merasakan betapa sarat akan perjuangan sampai Indonesia disebut merdeka, mereka tidak akan tahu, karna mereka tak dibubuhi dalam dunia nasionalisme yang hanya tumbuh ketika dalam dunia pendidikan.
Katakanlah, bahwa memang kemajuan atas beberapa kebijakan dapat terlihat realisasinya, semua sistem yang kelihatannya sangat sempurna, sampai si pembuat undang-undang, termakan oleh undang-undang tersebut, pandangan si bodoh menjadi semakin keruh, yang berawal dari berniat merubah karna kepedulian, lalu jadi pintar, mereka akan termakan kepintarannya, lalu menjadi bakal caron kemerosotan, betapa mudahnya satu kasus yang mendera orang hebat itu, dalam kisaran waktu gesekan jari puss selesai, sementara sirakyat yang awam pasal dan apalah itu, diintimidasi dengan seperangkap deskriminasi yang seolah-olah seolah. Maksudnya seolah itu sesuai dengan sila ke 2, bedanaya si penguasa cuci tangan dari prosedur, dan si rakyat ditekan prosedur? Semua orang bias menilai ko, namun hanya menilai, tgak bertindak. Kotorlah semua system itu .
Dan haruskah semua itu tetap dibiarkan ?

sendu keterasingan

ketika lembayung menjamah bumi sayup-sayup rona binar jingga menari. ada yang menggurik hati, perlahan menyayat membuahi keresahanku, tak ingat kenapa aku ada disini, dengan sekelumit tekanan dan hantaman merobek bahagia, keindahan ini hanya penghibur dari siksa hidup ini, mana fitrahku? kemana dia ? aku diperkosa oleh aturan-aturan ini, aku dijamah dan ditenjangi seenakknya, apakah memang harus seperti ini ? terimakah aku? sementara jiwa ini ingin sekali meronta, ingin kuberlari menembus cakrawala mimpi lalu tinggal selamannya dalam ilusi, sementara peran dan skenario sempurna yang kucipta dalam imaji tak henti membuatu melupakan segala nalar dan logika, segala makna suci itu telah direnggut hidup ini, tinggalah jiwaku tersisa diujung kelam legamnya keterasingan, tercampak bahkan seolah terbuang dari kalangan, semua melumatkan emosi ku membawaku terseok-seok ketepian meraba tepian tebing hanya untuk mencari tempat bernafas. 

selagi harum dan nampak kesetiaan gulita hadir menyelimuti, dalam pekatnya aku masih ingin berharap, walaupun harapanku tak tersifati batasan, hingga mungkin sepertinya aku tak pernah berharap, asa ku  memuncak melebihi ubun-ubun cakrawala tak terbendung bagai curah hujan, melingkupi segala ranah perasaan ku tak seluas jagat ini, walupun aku tak pernah mengukurnya, namun nada-nada disisi itu masih setia dalam ingatanku menari-nari menebar keindahan, menghembuskan angin sukacita, masih kupeduli terhadap dunia ini, namun hidup enggan diperdulikan.

namun dalam keterasingan ini mengajarkanku banyak siratan, memudarkan kedurjaanku pada hidup ini, nuansa-nuansa kepedihan, atau gonjang-ganjing kebahagiaan, biarlah jadi wajar, jalan ini akan kulawan dan bukan kutempuh, hidup hanya berputar dari persepektif belaka, entah diman intensnya, tabir demi tabir bukan lagi harus diterima, tetapi harus dikuak, bersama kesadaran ini, besama kemunafikan hati ini, bersama waktu ini, kendali atau dikendalikan, merajut atau dirajut, maju atau mati.

Sabtu, 09 November 2013

MOTIF dibalik motivasi

ketika sebuah impian meminta untuk diwujudkan, tekanan demi tekanan silih menyambar, waktu yang semakin melaju, rasanya hidup akan terhengi pada falsafah saja, namun ketika kita membuka diri untuk dunia, dan membulatkan segenap tekad, cahanya lentera menghapiri anda dan lambat laun terwujud sepeti mentari, hanya saja sabarlah dan tetap hadapilah hidup hanya persoalan mau atau tidak.
rubah dulu diri anda.
jangan menyerah.
hadapi.
jangan hindari maslah.
bohong, jika orang yang sungguh-sungguh TIDAK BERHASIL.
  

come on....

ketika menoleh kebelakang rasanya takan sulit menerima yang ada padanya. namun ketika kita dihadapkan pada kehidupan kedepan. seseorang itu dituntut sesalu melakukan progres yang berarti, namun pada putaran dunia abad 21 ini rasanya yang maju semakin maju, dan yang terbelakan makin tertinggal, ketika ingin memperoleh motivasi jitu, tak semua orang mampu menangkap hal yang disampaikan sang motivator, seseorang itu kadang hanya diluapkan teori demi teori tanpa memberikan wadah pengaplikasiannya, namun sesungguhnya apapun yang telah anda dapat dan anda peroleh dari orang lain atau motivator anda, sesungguhnya anda hanya akan percuma jika hanya pada saat itu saja anda mendengar, berkeinginan, namun tidak aksi. kebanyakan ajang pemotivasian itu sangatlah bagus dan mema bangun, tetapi sedikit orang menerapkannya, seakan-akan anda hanya dibuali semata. 
sesungguhnya perubahan itu anda sendirilah kuncinnya, jika anda aktif mondar mandir menyadap motivasi kesana kemari, jika diri and bembel, atau tidak mampu membuka diri anda sendiri, percuma, mimpi anda hanya tinggallah angan-angan semata.
pertama diri anda hanya perlu sadar dan kaji diri, dari sana anda kenali siapa anda, siapa anda, dan siapa anda.
seseorang bukanlah penentu masa depan anda, maka mulailah pelajari hal yang ada pada anda, dari sanalah anda temukan jawabannya.
selamat mengkaji diri, hijrah, lets move and DO IT.