Dan tentang
siluet itu hanya sebuah mimpi..
mereguk keindahan yang belum habis,
tentang cinta dan mimpi seorang gadis yang
merindukan bibir untuk diciumi senja
tentang rindu yang bergemuruh ditahan di
pangkuan sukmanya,
melambaikan
tangan pada kekasih
gadis itu makin sakit dengan rindunya,
atas mimpi yang tak kunjung tunas,
sembari membentuk perahu kertas di kemarau
sakit,
membuyung imajinasi di danau asmara
berharap kekasihnya datang menjemput,
menghabisi waktu
sendiri yang sunyi
membawanya menghadang barat diusia senja,
saling melempar
senyum memeluk jiwa satu sama lain,
serahkan gumpalan
rindu yang tak selesai dipahat waktu
namun, itu masih ilusi yang dingin
sebuah tanya menyeruak "kapan kita kesana
?"
di pancaran siluet
senja menganyam mimpi
menebar tawa lalu hidup menghabiskan umur kita
disana aku ingin kau buat menangis,
tangisan yang
melengking ujung langit
itu tentang syukur, guruhku pada asmara dengan mu
dan dengan Tuhan.
2014
()
pagi ini
memotret tentang 6 tahun silam..
suara meneduhkan hati dari para penghamba..
jiwa yang menjauh dari keramaian.
ada damai
yang menyelimuti,
dingn nya
tembok pondok suci ini menyeruak menebar hangatnya rindu.. rindu yang sendu
memunguti
irisan kenangan legam masalalu,
penyair pernah berdosa pada takdir memainkan
nya di jalan berdbu..
tawa abadi
msh mengepul disukma.. mentari nampak sbntar lagi,
ronanya masih sama ketika pertama kali aku
melihatnya.
apa kau ingat pertama kali itu ?
seperti
mengingat nama angin.. atau gradasi warna dilangit pagi sblum mentari itu,
adalah yang tesisa dari sang penyesal {}
rindu))
Rindu
kalimat manis diujung perckapan kita ,
rindu kata
bait akhir pesan mu..
katanya
penyair itu ingin membuat sejarah,
namun
sejarahnya telah lari,
ingn skali
aku membca bait syairnya tapi sayang serupa puisi itu telah dihapus..
membiarkan
para pmahat senja buta meraba2 sunyi..
di sisi
tebing kelam yang masih jauh..
wangi kisah
cinta pelan2 menjadi nama hujan dikmarau sakit,
segerik
puisi dsanaptn tlah kering..
bersama daun
knangan bulan desember,
di sejuk
yang memeluk, di sunyi yang mesra..
seperti
angn yang trus mencumbui semesta..
hari ini
tiada lagi berbntuk , mlah menyilaukan {}