Rabu, 26 Maret 2014

kenapa ?

oleh : neng qori nur awaliah

Aku selalu menikmati cuaca yang menerka
Hujan yang datang deras-deras, banjir-banjir menyertai mereka
Yang dipaksa mengemas nestapa
Lalu meminum airmata mereka sendiri

Tapi pelan-pelan kabut getir turun dikota ini
Orang-orang menyaksikan kepiluan beberapa jiwa
Beberapa tentang artikel kematian di kibarkan
Beserta bulir isak yang mereka campur dengan basah

Lalu, lalu apa yang mereka tangisi?
Beberapa orang nyatanya kembali pada kenistaan
Meraba manipulasi hidup, menikmati kesesaatan
Berputar dan bermain dalam ayunan waktu

Lalu kenapa  negriku basah?
Kenapa tragedi disini terangkum?
Kenapa ada pertanyaan yang putus dari pinggir sungai itu?
Berkali-kali ia menyelam bersama sendal jepit
Namun jasadnya selalu jadi sendal baru dan nama baru

Hujan kini menyentuh bumi
Namun sentuhannya terlalu lama
Hingga di penjuru sana kabar tentang mati mendenging lagi
Berkali dan bertahun mereka menikmati itu
Sebab kesadaran mungkin telah menjauh

Sementara Tuhan telah mewariskan semesta pada jiwa
Permainankah atau takdir?
Apa mungkin kita telah lalai menjaga amanah
Yah, berkali-kali tangan perusak itu lupa diri
Aku 10 tahun, namun keruksakan telah diwariskan padaku
Pada mata-mata polos sepertiku
Aku tak takut, walau harus mendirikan putih diatas hitam
Suka dalam tragedi
Atau hidup di atas mati

2014



Pertiwi..
Oleh : neng qorie nur awaliah
Aku masih berdiri disini
Menikmati air hujan yang pelan-pelan menerka
Hujan ini pernah disalahkan, disudutkan manusia
Kaki hujan kemarin adalah tangisan lirih para pecandu nelangsa

Bersama kabut getir yang selimuti ujung negriku
Perlahan-lahan menumpahkan airmata lara
Kesedihan nya telah menjadi nilai jual
Ratapannya mulai jadi obral tontonan nasional

Dan, inilah negriku yang semraut
Disamping maling-maling elite yang makin meradang
Ditengah orang pinggiran yang kelaparan
Dan yang memilih hidup sesaat dalam hura
Atau kumpulan para praksi dan penguasa keji
Sesaat segelintir pahlawan tanpa tanda jasa melupakan kata Tanpa nya

Wajah negriku  menjadi anomali bagi penghuninya
Ah, siapa yang mau menjadi Demagogi yang
Memberikan tamparan kepada orang-orang yang taklid buta
Terhadap sistem, otoritas, dan politik yang penuh tanda tanya

Negriku juga pernah ditabur wangi prestasi
Namun  ternodai oleh legitimasi yang aneh
Para penguasa yang terlalu prestise
Membiarkan mapia politisi mengadakan konspirasi di tengah airmata

Kembalilah pertiwi, kau mulai tersenyum getir
Aku juga takut negriku malah mempermainkan perawan
Luka mu makin napap, matamu menahan mendung
Semoga saja , mata yang lahir esok hari
Membawa tunas harapan bagimu pertiwi


Kenangan"

Kenagan..
Oleh : Neng Qorie Nur Awaliah
Sebuah tanda dalam kehidupan adalah mengenang
Aku selalu takut bila dihadapkan kenangan dan rindu
Berkali ku lihat hanya menjadi bilik yang terlupakan
Sisa-sisa yang menjadi masalalu sebentar lagi
Sesekali membuang harapan dan tawa-tangis
Aku masih duduk dalam kenangan jiwa mungkin dalam ingatan mu

Kadang gila aku berharap padanya agar tak dapat melupakanku
Bagaimana menyatukan mimpi-mimpi yang tertera
Kata dalam mudaku, telah gagal dan payah
Membuat sisi kelam yang hanya dalam mengenang

Suratan kita, kataku..
Aku memandangi tempat kelahiranku yang memuram
Mimpi membangun cita bersama-sama
Yang berharap ini bukanlah yang sempurna meski hanya sebatas kata
Sekali lagi aku memandangi langit dan awan yang mengapung disini
Ditempat kelairanku, kelahiranmu..

Sejenak ku diam, kau malah diam terlalu lama
Membeku, membisu..
Hiraukanlah aku, aku yang berharap bermimpi dan mereka kebanyakan juga
Meminta kau, aku, kita.. mereka.. menaruh mimpi yang sama di bukit sana
Menancapkan bendera kesuksesan bersama..
Jauh sekali aku cintai tanah ini

Kenangan ini jadi memanjang dibilik waktu
Membawa ingatan tentang kata sahabat
Pernahkan? Sudah ? atau tidak pernah.
Entahlah bujang pernah menangis disini, kau

Melintas perih dada muda yang letih, ku