oleh : neng qori nur awaliah
Aku selalu menikmati cuaca yang menerka
Hujan yang datang deras-deras, banjir-banjir menyertai
mereka
Yang dipaksa mengemas nestapa
Lalu meminum airmata mereka sendiri
Tapi pelan-pelan kabut getir turun dikota ini
Orang-orang menyaksikan kepiluan beberapa jiwa
Beberapa tentang artikel kematian di kibarkan
Beserta bulir isak yang mereka campur dengan basah
Lalu, lalu apa yang mereka tangisi?
Beberapa orang nyatanya kembali pada kenistaan
Meraba manipulasi hidup, menikmati kesesaatan
Berputar dan bermain dalam ayunan waktu
Lalu kenapa
negriku basah?
Kenapa tragedi disini terangkum?
Kenapa ada pertanyaan yang putus dari pinggir sungai
itu?
Berkali-kali ia menyelam bersama sendal jepit
Namun jasadnya selalu jadi sendal baru dan nama baru
Hujan kini menyentuh bumi
Namun sentuhannya terlalu lama
Hingga di penjuru sana kabar tentang mati mendenging
lagi
Berkali dan bertahun mereka menikmati itu
Sebab kesadaran mungkin telah menjauh
Sementara Tuhan telah mewariskan semesta pada jiwa
Permainankah atau takdir?
Apa mungkin kita telah lalai menjaga amanah
Yah, berkali-kali tangan perusak itu lupa diri
Aku 10 tahun, namun keruksakan telah diwariskan padaku
Pada mata-mata polos sepertiku
Aku tak takut, walau harus mendirikan putih diatas
hitam
Suka dalam tragedi
Atau hidup di atas mati
2014