sendu keterasingan
ketika lembayung menjamah bumi sayup-sayup rona binar jingga menari. ada yang menggurik hati, perlahan menyayat membuahi keresahanku, tak ingat kenapa aku ada disini, dengan sekelumit tekanan dan hantaman merobek bahagia, keindahan ini hanya penghibur dari siksa hidup ini, mana fitrahku? kemana dia ? aku diperkosa oleh aturan-aturan ini, aku dijamah dan ditenjangi seenakknya, apakah memang harus seperti ini ? terimakah aku? sementara jiwa ini ingin sekali meronta, ingin kuberlari menembus cakrawala mimpi lalu tinggal selamannya dalam ilusi, sementara peran dan skenario sempurna yang kucipta dalam imaji tak henti membuatu melupakan segala nalar dan logika, segala makna suci itu telah direnggut hidup ini, tinggalah jiwaku tersisa diujung kelam legamnya keterasingan, tercampak bahkan seolah terbuang dari kalangan, semua melumatkan emosi ku membawaku terseok-seok ketepian meraba tepian tebing hanya untuk mencari tempat bernafas.
selagi harum dan nampak kesetiaan gulita hadir menyelimuti, dalam pekatnya aku masih ingin berharap, walaupun harapanku tak tersifati batasan, hingga mungkin sepertinya aku tak pernah berharap, asa ku memuncak melebihi ubun-ubun cakrawala tak terbendung bagai curah hujan, melingkupi segala ranah perasaan ku tak seluas jagat ini, walupun aku tak pernah mengukurnya, namun nada-nada disisi itu masih setia dalam ingatanku menari-nari menebar keindahan, menghembuskan angin sukacita, masih kupeduli terhadap dunia ini, namun hidup enggan diperdulikan.
namun dalam keterasingan ini mengajarkanku banyak siratan, memudarkan kedurjaanku pada hidup ini, nuansa-nuansa kepedihan, atau gonjang-ganjing kebahagiaan, biarlah jadi wajar, jalan ini akan kulawan dan bukan kutempuh, hidup hanya berputar dari persepektif belaka, entah diman intensnya, tabir demi tabir bukan lagi harus diterima, tetapi harus dikuak, bersama kesadaran ini, besama kemunafikan hati ini, bersama waktu ini, kendali atau dikendalikan, merajut atau dirajut, maju atau mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar