HARUSKAH?
Semua orang tau Indonesia
belum merdeka, dan pernyataan itu hanya tinggalah pernyataan, semua orang
mengelu-elukan ingin memajukan Indonesia, tapi memajukan kemana? Indonesia tetap
ada digaris lintangnya kok, dan tetap ada dibelahan bumi asia, saat ini rakyat
mungkin semakin kehausan akan kejujuran, ironis, kejujuran di Indonesia adalah
kebenaran sdikit kesalahan, orang yang mempunyai kuasa tangan tidak menggunakan
tangannya untuk melayani, tapi malah mengacungkan telunjuk kesanan kemari,
semua hanya manut pada system, aturan dan undang-undang belaka, walaupun dalam
sila ke 2 , menyebut tentang “kemanusiaan” , sampai hari ini kenyataannya jauh,
Indonesia belum bias memanusiakan manusiannya.
Rakyat Indonesia kebanyakan
hanya manut dan taqlid pada takdirnya, mereka hanya iya ketika di-iyakan dan
begitupun sebaliknya, jika berbicara masalah menumpas kemelut-kemelut,
orang-orang terpilih itu hanya mencanangkan teori dan aturan semata, jikalaupun
presidennya beganti setiap tahun,toh duduk masalahnya akan berbeda setiap
priode, garis kemiskinan tetap saja eksis pada garisnya, sementara garis
popularita negeri untuk luar yang sama sekali tak menguntungkan rakyat sebagian
besar, eksis merambah menjadi kebanggan penjuru bumi, Indonesia harus bangga
ketika tak ada lagi jerit kelaparan di lorong jalan , atau bahkan dikolong
jembatan, buanglah undang-undang yang merumitkan kaum awam, yang sam sekali tak
terjamah pendidikan, mereka memandang itu hanya takdir yang harus mereka telan.
Dibawah garis
kesenjangan, apakah masih kaum pemikir pemegang kuasa, masuk kesetiap perasaan
rakyatnya, ketika menyingkap kepedulian, mereka peduli kepada apa yang mereka lihat,
dan bukan apa yang rakyat rasakan, ketika kesejahteraan menjadi angan-angan,
harga kebutuhan dibawah bersaing dengan harga diri rakyat, jeritan tangis kaum
lemah bagai simponi belaka.
Pendidikan pun menjadi
hal yang sangat mereka takutkan, mereka menukar ilmu dengan penyelewengan
bahkan dengan nilai dirinya, jikapun dalam undang-undang dasar diusung “mencerdaskan
kehidupan bangsa” kenapa biaya untuk mengenyam pendidikan secara sempurna itu
sangat mahal? Pendidikan saja di exsploitasi? Apa kata dunia ? , jikapun hari
ini adalah hari pahlawan, mungkin hanya sebagian lapisan masyarakat yang akan
mengerti dan merenungkannya, diujung sana mereka yang dibodohkan takan
merasakan betapa sarat akan perjuangan sampai Indonesia disebut merdeka, mereka
tidak akan tahu, karna mereka tak dibubuhi dalam dunia nasionalisme yang hanya
tumbuh ketika dalam dunia pendidikan.
Katakanlah, bahwa
memang kemajuan atas beberapa kebijakan dapat terlihat realisasinya, semua sistem
yang kelihatannya sangat sempurna, sampai si pembuat undang-undang, termakan
oleh undang-undang tersebut, pandangan si bodoh menjadi semakin keruh, yang
berawal dari berniat merubah karna kepedulian, lalu jadi pintar, mereka akan
termakan kepintarannya, lalu menjadi bakal caron kemerosotan, betapa mudahnya
satu kasus yang mendera orang hebat itu, dalam kisaran waktu gesekan jari puss
selesai, sementara sirakyat yang awam pasal dan apalah itu, diintimidasi dengan
seperangkap deskriminasi yang seolah-olah seolah. Maksudnya seolah itu sesuai
dengan sila ke 2, bedanaya si penguasa cuci tangan dari prosedur, dan si rakyat
ditekan prosedur? Semua orang bias menilai ko, namun hanya menilai, tgak
bertindak. Kotorlah semua system itu .
Dan haruskah semua itu
tetap dibiarkan ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar